Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter sejak beberapa tahun yang lalu untuk semua tingkat pendidikan di Indonesia. Munculnya ide/gagasan tentang program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di negara kita dapat dimaklumi merupakan hasil evaluasi para pakar pendidikan bahwa ternyata selama ini pendidikan belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan ketika itu beberapa orang yang menyebut bahwa pendidikan telah gagal membangun karakter bangsa.
Banyak lulusan sekolah bahkan para sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, namun mentalnya lemah, penakut dan perilakunya tidak terpuji. Menurut Mendikbud ketika itu, Prof. Moh. Nuh mengatakan bahwa pembentukan karakter perlu dibangun sejak usia dini karena jika karakter sudah terbentuk sejak dini, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ini selaras dengan maqolah yang kita ketahui:
التعلم في الصغر كالنقش على الحجر
"At ta'alumu fishogiri kannaqsyi alal hajari."
Artinya: Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.
Tujuan dari pembentukan karakter anak sejak usia dini adalah agar anak memiliki kepribadian yang baik dan luhur sehingga ketika anak sudah menginjak usia remaja maupun dewasa, maka dia akan menjadi anak yang sholeh/sholeha sehingga dapat memberikan manfaat untuk sesama. Tanpa proses pemberian pengasuhan dan pendidikan yang benar, mustahil untuk mencetak anak yang berkarakter.
Anak yang berkarakter tentunya memiliki parameter dan nilai standarisasi meskipun pointnya bisa saja berbeda tergantung dari kemampuan yang dimiliki anak. Hal yang terbaik untuk digunakan sebagai parameter tentunya adalah pembentukan karakter anak yang berwawasan Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pendidikan yang diajarkan Rasulullah SAW adalah pendidikan karakter yang paling ideal karena karakter/akhlakyang dimiliki beliau telah terbukti dapat merubah dunia. Semua itu disebabkan karena karakter/akhlak yang digunakan Nabi berasal dari Al-Qur’an Al-Karim, firman Sang Maha Pencipta.
Di dalam Al-Qur’an dapat kita temukan bagaimana Allah SWT menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadis-hadis Rasulullah SAW dapat banyak kita temukan juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik berupa perintah beliau maupun perbuatan beliau ketika mendidik putra-putrinya secara langsung.
Beberapa contoh pendidikan karakter yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada kita sebagai seorang pendidik maupun orang tua antara lain; pertama, menanamkan tauhid dan aqidah yang benar kepada anak. Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan akar dalam beragama. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya tanpa tauhid yang benar, dia akan terjatuh dalam kesyirikan dan akan menemui celaka baik di dunia maupun di akhirat. Naudzubillah.
Di dalam Al-qur’an, Allah SWT telah mengisahkan nasehat Luqman kepada anaknya:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya'iẓuhụ yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun 'aẓīm
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Al-Luqman: 13)
Kedua, mengajari anak untuk melaksanakan ibadah. Sebaiknya sejak anak usia dini diajarkan bagaimana tata cara beribadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mulai dari tata cara bersuci, shalat dan puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
صلوا كما رايتموني اصلى
Shollu kama roaitumuni usholli
Artinya : “shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari)
Dan dalam hadits yang lain juga disabdakan :
عَلِّمُوا الصَّبِيَّ الصَّلَاةَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرٍ
Artinya: “Ajarkan anak untuk shalat di usia tujuh tahun, dan hukumlah jika meninggalkan shalat di usia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi)
Apabila putra-putri kita telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajaklah mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka sejak usia dini, Insyaallah ketika mereka dewasa nanti, mereka telah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.
Pendidikan karakter lainnya yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada kita supaya diterapkan ketika mendidik putra-putri kita diantaranya adalah mengajarkan Al-qur’an, hadits serta do’a dan dzikir yang ringan kepada anak; mendidik anak dengan berbagai adab dan akhlak yang mulia baik dalam hal berucap dan berbuat; melarang anak dari berbagai perbuatan yang diharamkan dalam agama; menanamkan cinta jihad dan keberanian dalam ber ‘amar makruf nahi munkar dengan cara yang telah diajarkan Rasulullah SAW; serta membiasakan anak dengan berpakaian syar’i.
Pendidikan karakter dengan berbagai tuntunannya sebagaimana tersebut diatas adalah salah satu usaha kita untuk membentuk generasi-generasi bangsa yang hebat lahir dan batin demi terwujudnya Indonesia Emas 2045 dan demi kejayaan Islam di masa mendatang di tengah badai globalisasi dan digitalisasi saat ini.
Wallahu a’lam bishawab
Penulis : Andi Purwanto, S.Pd.I (Tenaga Pengajar SMP Al-Khatibiyah)